Tampilkan postingan dengan label cerita fin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita fin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Aku, Kita dan Mereka (Bagian 2)

- 0 comments

Pertama kali aku bertemu Allison 3 tahun yang lalu sewaktu dia jadi mahasiswa magang di kantor dan aku sebagai pembimbing dia. Secara fisik, kesan pertama yang aku tangkap dari seorang Allison, dia orang yang biasa saja, just a guy next door.

Tapi yang langsung menarik perhatianku adalah semangat dan antusiasme dia dslam segala hal. Segala tugas yang dibebankan kepadanya dianggap sebagai tantangan dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Dan rupanya kedua hal tersebut merupakan sifat dasar dari Allison, bukan hanya di awal saja dia memperlihatkan antusiasme dan semangat dalam pekerjaan, bahkan sampai sekarang kedua jhal tersebut selalu dia tunjukkan dalam setiap hal yang dia kerjakan.

Sebagai seorang pembimbing interaksi intens yang terjadi membuat kami menjadi dekat, Allison seorang pembelajar, tak segan dia bertanya tentang hal yang dia tidak pahami. Sesuatu yang membuat ketertarikanku kepadanya semakin bertambah.

Hubungan kami tetap terjalin baik walaupun Allison sudah tidak lagi magang di kantor, karena kami memutuskan untuk jadian. Kurang lebih setahun kami bersama, sampai akhirnya Allison lulus kuliah. Rencana Awal Allison akan tetap tinggal disini mencari pekerjaan di sini. Namun apa daya beberapa minggu setelah lulus kuliah papa Allison meninggal dunia dan Allison tidak diperbolehkan kembali ke Jawa karena harus menemani mamanya dan mengurus usaha keluarga.

Beberapa lama kami menjalani LDR, sampai akhirnya setelah obrolan panjang kami berdua memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Walaupun kami bukan lagi pasangan tapi komunikasi kami tetap berjalan baik. More like adik - kakak hubungan kami sekarang. Kami terbuka dalam segala hal, ketika kami bertemu dengan seseorang, tak canggung untuk saling bercerita. Termasuk juga ketika aku jadian dengan Elensar, pun aku ceritakan kepada Elensar. Dan yang terakhir tentang rencana pernikahannya yang menurutku cukup mendadak.

[Continue reading...]

Sabtu, 04 Mei 2013

Aku, Kita, dan Mereka (Bagian 1)

- 0 comments

Hufth... Ku hempaskan tubuhku ke kursi. Akhirnya kelar juga kerjaan hari ini. Meeting dengan beberapa klien dan setumpuk berkas-berkas yang harus aku selesaikan telah menguras tenaga habis-habisan.

"Pak Min, tolong buatkan saya secangkir kopi susu yak." Kataku kepada pak Min, OB kantor yang tengah melintas di dekat meja kerjaku.

"Jangan manis-manis." kataku menambahkan.

"Oke bos..." Sahut pak Min dari kejauhan.

Sore ini cuaca kota Solo cerah ceria, ku lihat dari jendela kantor matahari yang mulai redup terlihat jelas di sebelah barat sementara lalu lintas di depan kantor mulai ramai dengan orang-orang yang tengah pulang kantor.

Ah... Suka mellow deh klo ngeliat matahari tenggelam. Tengah asyik menikmati matahari tenggelam tiba-tiba ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari Allison.

"Hai Al, apa kabar?" katanya membuka pembicaraan.

"Kabar baik kak, kakak gimana? Masih sibukkah ?" Katanya dengan suara ceria.

"Alhamdulillah sehat, ini lagi istirahat."

Kulihat pak Min meletakkan kopi pesananku diatas meja.

"Makasih pak Min."

"Oke..." jawab pak Min sambil menirukan gerakan sebuah iklan.

Kembali ke telepon.

"Kakak, aku ada kabar untuk kakak." kata Allison.

"Oh ya? Kabar apakah?" Tanyaku sambil menyeruput kopi buatan pak Min.

"Bulan depan aku menikah." Kata Allison.

"Wow... Selamat Al, I'm happy for you." Kataku dengan semangat.

"Dan... Aku harap kakak bersedia hadir di upacara pernikahanku." Kata Allison menambahkan.

Terdiam sejenak. Bulan depan... Aku masih punya banyak cuti tahunan dan sampai saat ini aku juga belum ada rencana untuk bulan depan.

"Gimana kak?" tanya Allison.

"Insya Allah ya Al, kakak belum ada rencana untuk bulan depan, jadi kemungkinan besar kakak bisa datang. Tapi kakak juga harus bilang dulu ke Elensar." Kataku menjelaskan.

"Iya deh... Kakak suami yang sayang isteri, atau takut istri?" Kata Allison dengan nada menggoda disertai dengan ketawa ngikik.

"Tabok ya..." Kataku dengan gemes.

"Becanda kak... Becanda..." Kata Allison dengan sisa-sisa tawa.

"Oh iya Kak, Al udah nyedian tiket pesawat pp untuk kakak..."

"Nggak perlu Al..." kataku menyela.

"Nggak papa koq Kak, aku yang meminta kakak untuk datang kesini yang jauh ini, jadi udah sewajarnya tho?" kata Allison.

Aku cuman terdiam sambil garuk-garuk kepala tak tahu harus berkata apa.

"Yaudah deh..." Kataku akhirnya.

"Al minta di kado apa?" kataku menambahkan.

"Kado mobil ya kak, BMW atau Mercy gitu."

"Jyah... Mana mampu kakak beli mobil itu." kataku.

"Hihihi... Becanda kakak... Kakak udah mau kesini aja udah menjadi kado yang berharga buat Al." Kata Allison dengan riang.

Kembali aku hanya bisa terdiam.

"Hehehe... Yaudah deh, ntar kakak kabarin yak."

"Yaudah kak, gitu dulu yak, have a great day. Salam buat Elensar." kata Allison.

"Have a great day to you too, selamat sekali lagi." Kataku.

Allison menutup telepon.

Another hufth, dapat kabar dari Allison. Beberapa waktu lalu Allison memang pernah cerita kalau lagi dengan dengan seorang wanita yang dijodohkan oleh keluarganya, tapi dia tidak cerita perkembangannya dan aku juga tidak bertanya karena aku menganggap tidak sopan kepo kehidupan orang lain, walaupun dia mantanku sendiri.

Ya, Allison adalah mantan pacarku yang sebentar lagi akan menikah.

[Continue reading...]

Minggu, 21 April 2013

Hubungan (Tak Perlu) Status

- 0 comments

Alabaster bangkit dari tempat tidur, dia meraih sebotol air mineral di dalam kulkas kecil di sebelah tempat tidur dan kemudian meneguknya sampai tandas, diatas tempat tidur terlihat Ryan tengah tergolek bermalas-malasan, tak terlihat selembar benang pun menutupi tubuh keduanya.

Sambil duduk diatas tempat tidur, Alabaster berkata

"Ray... kenapa sih kita tidak jadian aja?"

"Harus kah kita ngomongin hal ini lagi Al?" Kata Ryan sambil menengok kearah Alabaster.

"Aku... suka sama kamu Ray." Kata Alabaster dengan nada suara perlahan.

"Aku tahu itu Al, dan akupun suka sama kamu."

Terdiam sejenak, kemudian berkata

"Tapi... "

Ryan tercenung.

"Don't get me wrong Ray, I love what we do together. I enjoy the sex A LOT... That why we do that 3 time malam ini."

Ambil napas sebentar.

"Kita telah menjalani "hubungan" ini selama... *mikir sebentar, mengingat-ingat*

"5 bulan? Dan kita berdua sama-sama menikmati hal ini, kenapa harus "merusak apa yang sudah kita jalani?"

Kembali mereka berdua terdiam, beberapa saat kemudian Alabaster berkata.

"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan ke kamu Ray."

"Apa itu Al?" Tanya Ryan

"Sebenarnya... Aku sudah ada pacar..."

Terdiam sejenak.

"Kami jadian sebulan yang lalu."

Kembali mereka terdiam.

"Aku juga mau menyampaikan sesuatu Al." Kata Ryan kemudian.

Alabaster melihat Ryan dengan wajah bertanya.

"Aku pun juga sudah ada pasangan, kurang lebih jadiannya sama kayak kamu, sebulan yang lalu."

Awkward moment, mereka berdua kembali terdiam tanpa ada seorangpun yang tahu bagaimana memecahkan kebekuan yang tiba-tiba muncul diantara mereka berdua.

"Al..." akhirnya Ryan yang pertama kali memecah kebekuan

"Hmm..." Alabaster hanya membalas dengan deheman.

"So..." kata Ryan lagi.

Tangan Ryan terulur, mengelus perlahan punggung Alabaster.

Sejenak kemudian.

"What the heck..."

Alabaster meraih tangan Ryan, di lumatnya bibir Ryan dengan bibirnya. Malam itu mereka kembali bergumul untuk keempat kalinya.

[Continue reading...]

Selasa, 16 April 2013

Restu Orang Tua

- 0 comments

Hari ini Findarato ada janji makan siang dengan Alabaster, teman masa SMA nya dulu. Mereka bertemu di salah satu warung bakso terkenal di kota Solo. Sambil makan mereka pun ngobrol.

"Gimana kabarnya Fin? Kapan kawin? Aku udah punya buntut dua lho..." Kata Alabaster dengan mimik wajah antara campuran kepo dan ketawa (nah lho?)

"Kawin sih udah, nikahnya yang belum hehehe..." kata Findarato mengeluarkan guyonan lama nan garing itu.

"Serius Fin, emang kenapa alasannya? Belum nemu yang cocok?"

"Uhmm... sebenarnya udah sih ketemu yang cocok..."

"Terus?" Makin kepo deh si Alabaster.

"Nunggu restu dari orang tua." Kata Findarato sambil tersenyum.

"Kenapa emangnya? Beda agama kah?" Cecar Alabaster.

"Enggak, kita seagama koq, dia juga rajin beribadah."

"Terus kenapa orang tua belum memberi restu?"

"Kita... sama Al." kata Findarato.

"Sama? Sama gimana maksudnya?"

"Sama-sama laki-laki maksudnya." Kata Findarato kalem.

Tiba-tiba si Alabaster keselek bakso dan gak bertanya lagi.

[Continue reading...]

Minggu, 14 April 2013

Sama Siapa?

- 0 comments

Allistair lagi asyik mainin laptop di kamarnya Ryan (ingat ya laptop yang dimainin bukan yang lain :D) sementara Ryan menemani di sebelah sambil mengelus-elus perut Allistair.

"Jangan ah Ray, geli... " kata Allistair sambil menepis tangan Ryan.

"Habis perut kamu seksi sih..." Kata Ryan sambil nyengir.

"Ish... seksi gimana orang perut kayak orang hamil lima bulan gini dibilang seksi." Kata Allistair sambil pasang tampang manyun nggambek.

Tiba-tiba Ryan berdiri, kemudian menatap wajah Allistair.

"Katakan padaku Al, sama siapa?" Katanya memasang tampang serius

Allistair bengong

"Hoe??? Maksudnya?"

"Kita pacaran belum ada sebulan, tapi kamu sudah hamil 5 bulan, katakan padaku siapa bapak dari anak ini Al???" Kata Ryan dengan nada dan mimik ala sinetron deramah.

Bengong sejenak

"Aku gugurin aja klo gitu ya Ray?" Kata Allistair dengan mimik wajah tak kalah serius.

[Continue reading...]

Jumat, 12 April 2013

Dikocok Dulu

- 0 comments

Hari ini Allistair dan Ryan kencan makan siang bareng, berhubung kerjaan cukup banyak akhirnya diputuskan makan siang di pedestrian di depan kantor Allistair (oh iya latar belakang ceritanya di kota Solo, dan di kota Solo banyak tempat buat bersantai di sepanjang jl Slamet Riyadi - jyah dibahas)

Ryan menunggu di salah satu sudut pedestrian kota Solo lengkap membawa tas plastik berisi sandwich dan minuman. Tak berapa lama Allistair pun menghampiri. Sambil menikmati sandwich yang dibawa Ryan, Allistair bertanya:

"Tumben minum kopi?" Katanya sambil menunjuk 2 kemasan tetra pack kopi yang ada di kantong plastik.

"Iya nih, masih nggantuk banget gegara semalam kita bergadang sampe malam."

"Koq ada 2?" Tanya Allistair lagi.

"Iya, di minimarket *sebut nama minimarket* lagi ada promo, beli 2 lebih murah."

"Oh... Buat aku satu ya???" Kata Allistair dengan nada manja.

"Boleh..." Kata Ryan sambil mengulurkan 1 kemasan kopi.

"Jangan lupa dikocok dulu." Katanya menambahkan.

"Harus dikocok yah?" Tanya Allistair.

"Iya, biar lebih enak." Jawab Ryan.

Allistair kemudian meletakkan kemasan kopi nya dan kemudian membuka sabuk celananya.

"Kamu ngapain???" Kata Ryan sambil mencegah Allistair melanjutkan aksinya.

"Lah? Katanya harus dikocok dulu biar enak?" Kata Allistair dengan muka polos.

"Kopinya Al, kopinya!!!!!" Kata Ryan dengan gemas.

[Continue reading...]

Foto Seksi

- 0 comments

Hubungan antara Allistair dan Ryan lagi hangat-hangatnya, tiada hari tanpa kemesraan diantara mereka berdua. Namanya juga baru pacaran, jadi ya gitu deh...

Suatu hari, mereka berdua tengah chat WA. Tengah asyik-asyiknya chat, tiba-tiba Allistair bertanya sesuatu.

"Ray... Aku boleh minta sesuatu nggak?"

"Minta apa Al?" Jawab Ryan

"Kirimin aku foto kamu dong..."

"Lah? Pan udah ada tuh yang di avatar?"

"Nggak mau... Aku maunya foto seksi kamu." Tulis Allistair sambil tak lupa menambahkan emot cemberut.

"Oh bentar..."

Tak lama kemudian Ryan mengirimkan fotonya tengah monyong ala-ala anak alay.

"Foto seksi Ray... Bukan foto alay..." Tulis Allistair (tambahan emot orang dengan keringat segedhe gaban)

"Uhmm... Emang foto seksi yang dimaksud Al yang seperti apa yah?"

"Aku maunya foto kamu yang lagi telanjang." Jawab Allistair (pasang emot orang dengan hati di kedua matanya)

"Tapi Al... Aku gak punya foto kayak gituan." Jawab Ryan.

"NGGAK MAU... POKOKNYA HARUS!" jawab Allistair (capslock rusak + emot cemberut beberapa biji)

Jeda beberapa saat.

"Yaudah deh... Demi kamu..." Jawab Ryan sambil mengirimkan foto.

Tak berapa lama kemudian.

"Ray...."

"Kenapa Al?"

"Yandak foto telanjang kamu pas bayi juga kali Ray!!!!!" (Emot cemberut plus orang marah lempar bangku).

NOTE:
Klo ada orang yang kayak Ryan ini, I would love to meet him deh :))

[Continue reading...]

Sabtu, 06 April 2013

Teman Tidur Baru

- 0 comments

Stuart dan Ryan, dua orang sahabat tengah jalan-jalan berburu diskonan di salah satu mall di kota Solo. Sewaktu lewat di depan toko sprei, Ryan berkata:

"Kita mampir bentar Stu."

"Tumben mau beli sprei." Kata Stuart.

"Hu uh... Kemarin habis dapat temen tidur baru." Kata Ryan cuek sambil memilah dan memilih sprei yang ada.

"Eserius??? Udah ada pacar baru? Koq gak bilang-bilang sih?" Kata Stuart dengan antusias.

"Etapi bukannya kemarin kamu bilang lagi males buat pacaran? Atau jangan-jangan.... Oh... Cuman "teman tidur" yah? Klo cuman "teman tidur" kenapa harus susah-susah beli sprei baru segala sih?" Kata Stuart merepet.

"Bawel deh kayak emak-emak. Kemarin tuh aku habis beli guling baru. Disana g ada sprei bagus makanya aku mau cari disini." Kata Ryan dengan cuek sambil tetap fokus pada tumpukan sprei di rak.

Stuart terdiam sambil manyun.

"Yang item ini bagus nggak Stu? Atau yang gambar Superman aja kali yak? Biar berasa tidur sama Superman terus gitu." Kata Ryan kepada Stuart meminta pendapatnya.

"Ray..." kata Stuart dengan lirih agak-agak dongkol.

"Oh... Yang merah aja yak, biar terkesan romantis gitu. Gimana menurut kamu?" Ryan nyerocos sambil tetep melanjutkan hunting sprei.

"RAYYYYY..." Teriak Stuart dengan nada dongkol.

"Sssst... Apaan sih tereak-tereak, malu tau diliatin orang-orang." Kata Ryan sambil meletakkan telunjuknya ke mulut.

"BODO!!!! Aku pulang!" Kata Stuart sambil keluar dari toko.

[Continue reading...]

Berdoa Dulu

- 0 comments

Allistair dan Ryan akhirnya jadian. Dan malam minggu ini first date mereka sebagai sepasang kekasih. Oh iya mereka berprinsip NSBJ (No Sex Before Jadian) jadi kemarin-kemarin ketika mereka nge date pedekate, mereka tidak melakukan hal ini.

Sepulang dari makan, mereka berdua pun kemudian menuju kost Allistair. Begitu pintu tertutup Ryan pun kemudian memeluk dan mencium Allistair.

Ketika dia hendak membuka baju Allistair, tiba-tiba Allistair berkata

"Tunggu dulu..."

"Kenapa sayang?" Kata Ryan dengan napas sedikit memburu

"Jangan lupa berdoa dulu." Kata Allistair.

"Hah?" Ryan menatap Allistair sambil bengong.

"Iya, kata mama klo mau ngapa-ngapain kita harus berdoa dulu. Mau melakukan hubungan kan ada doa khusus tuh." Kata Allistair dengan polos.

"You are amazing you know that Al." Kata Ryan dengan gemes.

[Continue reading...]

Selasa, 02 April 2013

Ada Helm Nggak?

- 2 comments

Hari ini Ryan ada first date sama Allistair, cowok incerannya selama ini, mereka tengah chat mengenai rencana date merek.

"Ray, aku nggak ada motor. Nanti kamu bisa jemput aku nggak?" Kata Allistair.

"OK... Mau dijemput dimana?" Kata Ryan

"Di kost aja yak."

"Btw kamu ada helm kan?"

"Uhmm... Ada..."

"OK, see you at seven then."

Pukul 19 kurang dikit Ryan sudah berada di depan kost Allistair. Dengan dandana  rapi jali nan menawan hati *bahasanya euwuh banget.*

Dari dalam kamar keluarlah Allistair yang tak kalah rapinya.

"Udah siap berangkat?" Kata Ryan berbasa basi.

"Hayuk..." sahut Allistair.

"Uhmm... Helmnya mana?" Tanya Ryan yang keheranan melihat Allistair keluar kamar tanpa helm.

"Harus di keluarkan sekarang yah?" Tanya Allistair dengan muka agak bingung.

"Yaiyalah... Kan kita udah mau berangkat."

"Yaudah..." kata Allistair sambil membuka tas selempangnya.

"Kamu pilih yang mana?" Katanya menambahkan sambil memperlihatkan isi tasnya. Di dalamnya terdapat beberapa "helm" dengan berbagai macam merk.

Ryan pun melihat Allistair dengan tampang bengong se bengong bengongnya.

[Continue reading...]

Sabtu, 16 Maret 2013

Kasih Tak Sampai

- 0 comments

"I'm married man Stu." Kata Allison dengan lembut sambil menatap mataku tajam.

Aku terdiam, ku tarik napas dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. Setelah beberapa saat, aku pun berkata.

"I know Al. We talked about it ever since we first met..."

"Dan bagiku itu sebagai sebuah rambu-rambu."

"Not to be involved emotionally with you."

Aku terdiam sejenak, ku lihat Allison yang mendengarkanku dengan sabar, sebuah senyum tersungging di wajahnya.

"Aku mengulangi kesalahan lama, jatuh cinta kepada pria yang telah beristri."

"But me and my foolish heart. Semakin aku menolak, semakin aku menjaga, semakin aku jatuh hati... padamu"

Ku ucapkan semuanya dengan terbata-bata, dan kemudian aku kembali terdiam. Allison masih saja terdiam memandangiku dengan tatapannya yang sayu dan senyuman menghiasi wajahnya.

"Tuhanku... Aku bahkan tak tahu kenapa aku mengungkapkan perasaanku kepadamu."

Kututup wajahku dengan kedua tanganku.

"I shouldn't say it. I should've keep it for myself."

"I have been taken Stu... by my spouse." Kata Allison perlahan.

Kembali aku terdiam.

"I know Al. I wish you both happiness in your married. I'm happy for both of you. She's lucky to have you." Kataku kemudian sambil tersenyum kearah Allison.

"No Stu, I'm the lucky one to have her as my wife." Kata Allison.

Oh Al... Aku menyayangimu dan aku akan selalu menyayangimu. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku berharap kebahagiaan untukmu dan keluargamu.

~"~" ~"~" ~"~

NOTE:
Untuk yang tengah galau :)

[Continue reading...]

Selasa, 19 Februari 2013

Dear Allison

- 0 comments

Aku tengah asyik menulis di teras kamar ketika tiba-tiba kurasakan angin dingin berhembus di tengkukku. Cuaca sore ini memang mendung, namun entah kenapa, rasanya angin yang barusan berhembus berbeda.

Aku teringat padamu Al, teringat apa yang kau pernah katakan dulu.

"Kita akan tetap terus berkomunikasi, walaupun jarak dan waktu memisahkan kita. Akan ku kirimkan pesan melalui udara, melalui angin, kau akan tetap bisa mendengarku, merasakan kehadiranku."

Al... Kau kah itu yang barusan mengirimkan pesan kepadaku? Mencium tengkukku seperti yang biasa kau lakukan dulu. Mengejutkanku dengan mencium tengkukku dari belakang ketika aku tengah asyik menulis.

Al... Aku senang kau masih mau menyapaku, aku senang kau masih memperhatikanku. Menjagaku. Aku baik-baik saja Al. You were right, Ryan is such a nice person. He's taking care of me very well. Membantuku keluar dari kesedihan karena kehilanganmu. Dan membuatku merasakan lagi arti dicintai dan mencintai.

Ku hela napas panjang. Ku dengar suara langkah kaki mendekat dari belakang.

"Stu? Kau tidak apa-apa? Dari tadi aku panggil kau tidak menyahut." Kata Ryan sambil memegang bahulu.

"Al barusan menyapa." Kataku tersenyum melihat kearah Ryan.

Ryan duduk di sampingku, mengenggam tanganku dan kemudian berkata.

"Nanti malam kita berdoa untuk Al."

Al... Terima kasih untuk semuanya, sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang.

NOTE:
Sequel dari cerita Happy Christmas Stu

[Continue reading...]

Senin, 18 Februari 2013

Dear Stuart,

- 0 comments

Hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganmu. Begitu miripnya hingga aku kira itu kamu. Kulihat dengan seksama, ku perhatikan baik-baik. But alas... It wasn't you :(

Dan rasa kangen yang selama ini aku pendam, tiba-tiba membuncah.
Aku kangen jalan-jalan bareng sama kamu, aku kangen nyobain makanan-makanan aneh di wedangan sama kamu. Burung puyuh bakar, wedang jahe, sayur tumis yang pedesnya minta ampun. Sambal-entah-apa-namanya yang nampol habis.

Stu, malam ini aku tak bisa tidur. Terbayang kembali kebersamaan kita. Menikmati suasana kotamu di waktu malam berdua sama kamu, ngobrol ngalor ngidul sama kamu. Aku kangen hal-hal kecil tersebut, hal-hal kecil yang aku lakukan bersama kamu.

Stu, aku kangen kamu >_<

[Continue reading...]

Selasa, 05 Februari 2013

Cerita IV : Liner Note

- 3 comments

Dalam hidup kita mempunyai pegangan, prinsip, nilai atau apapun itu namanya, dan kita akan sering bertemu dengan orang yang berbeda bahkan berseberangan prinsip dengan kita. Namun perbedaan tersebut tidak menghalami untuk menjadi dekat baik sebagai teman atau lebih. Dan who knows, kita akan bertemu dengan seseorang atau suatu hal yang menyebabkan kita mengubah prinsip kita tersebut.

That's the main idea yang saya coba ungkapkan di Cerita IV ini. Ide awal cerita ini datang di pertengahan bulan Desember kemarin, terinspirasi oleh kisah masa lalu dan obrolan dengan seorang kawan,dengan berjalanannya waktu sering timbul dan tenggelam membentuk dirinya. But still saya belum bisa melihatnya dengan jelas secara utuh.

Hingga saat saya menonton film Intouchable kemarin, entah karena cerita dari filmnya yang menarik atau orang yang menemani saya yang menginspirasi saya. I have found the missing link.

And so the stories goes and I type them.

Cerita ini sebuah ucapan terima kasih untuk B karena pernah berbagi kisah hidup dengan saya dan sebagai permintaan maaf atas apa yang telah terjadi.

[Continue reading...]

Cerita IV Part 3

- 0 comments

Hampir 30 menit kami menunggu pesanan kami untuk diantar. Sambil menunggu, seperti biasa mas Al menanyakan kabar dan kerjaan gue. Ketika kami tengah asyik ngobrol pesanan kami diantar.

Satu gurame bakar ukuran besar, satu cobek sambal, lalapan, satu porsi sayur asem kesukaan mas Al, dan seporsi bakwan jagung pesenan gue. Seperti biasa, nasi merah untuk mas Al dan nasi putih untuk gue.

Pernah suatu saat gue mencoba pesan nasi merah, dan gue sama sekali tidak bisa menikmatinya. Mas Al cuman ketawa ngeliat muka aneh gue yang tengah mencoba mengunyah nasi merah.

"Dek Stu ndak usah memaksakan diri, kalau dek Stu ndak suka ndak usah makan." Kata mas Al waktu itu. Dan gue langsung pesan nasi putih pengganti nasi merah :P

"Mas Al mau bakwan jagung?" Kata gue sambil nyengir ngegoda.

"Buat dek Stu aja. Mas ndak tega ngerecokin." Balas mas Al.

Gue (pura-pura) manyun di goda mas Al.

Ketika kami tengah asyik makan, tiba-tiba ada telepon masuk. Cukup lama mas Al ngobrol lewat telepon.

"Dari mamanya anak-anak." Kata mas Al setelah menutup telepon.

~~~

5 bulan yang lalu

"Mas Al lu itu bukan Pak Allison manager produksi di PT X itu yah?" Tanya Ryan sewaktu gue main ke kost dia.

"Yups..." Jawab gue sambil menggeledah kulkas Ryan.

"Seriously?" Nada suara Ryan meninggi dengan mimik wajah tak percaya

Gue cuman nyengir ngeliat dia.

"GUE NGIRI!!!!!" Kata Ryan.

"Sekalinya lu punya pacar dapat orang tajir." Kata Ryan menambahkan dengan muka ditekuk khas dia klo lagi nggambek.

Dan sekali lagi gue cuman nyengir.

"Wait a sec...  Bukannya dia udah married yak?" Tanya Ryan

"Iya..." gue jawab perlahan.

"Dan dia udah punya anak kan?" Tanya Ryan lagi

"Uhmm... hu uh..." jawab gue

"But... But... But..." kata Ryan tergagap

"OMG!!! Elu jadi isteri simpenan dia?" Kata Ryan lagi

"Gak gitu juga kali, lebay deh ih..." kata gue

"Whatever lah, isteri simpanan, kekasih gelap atau apa lah istilahnya." Kata Ryan menambahkan.

Untuk sesaat kami terdiam.

"Kekurangan" dari mas Al bahwa dia sudah menikah dan dia sudah punya anak, sejak awal dia terbuka mengenai hal ini. Dari awal pula gue berjanji pada diri gue sendiri apapun bentuk hubungan gue dengan mas Al gue tidak akan mengambil keuntungan dari hubungan kami.

Secara materi iya, mas Al orang tajir, selain sebagai manajer pemasaran di PT X dia juga punya usaha yang cukup maju, jelas dia lebih dari tercukupi, sementara gue pegawai baru dengan gaji yang pas-pasan, tapi gaji gue cukup buat hidup gue dan gak pernah minta ke mas Al. We're two grown up that share our love, passion to one another nothing more than that.

"Oh Stu..." Kata Ryan lagi

"Well... Kalau gue ya Stu, gue gak akan berhubungan dengan pria beristri, tapi itu gue lho ya..." Kata Ryan

Gue cuman ngelirik sambil berdehem kecil.

"Iye.... Iye... Gue pernah punya affair sama cowok married." Kata Ryan seakan bisa membaca dehemen gue tadi.

"Uhuk..." gantian gue pura-pura batuk.

"IYE... Beberapa kali" Kata Ryan gondok

"Tapi itu kan cuman affair, just for fun gak berlanjut ke sebuah hubungan serius." Kata Ryan membela diri.

Gue gak menjawab. We both know what happen and no need to argue for such thing.

"Oh Stu..." Kata Ryan lagi sambil menghela napas panjang. Kemudian dia meraih tangan gue.

"Gue sahabat lu, gue berharap lu bahagia." Kata Ryan dengan tulus sambil meremas tangan gue.

Bahagia kah gue? Gue gak nggerti, tapi yang jelas gue menjalani semuanya tanpa tekanan.

~~~~

"Gimana kabarnya mbak Merry mas?" Tanyaku kepada mas Al. Mbak Merry adalah nama isteri dari mas Al.

"Baik... Dia lagi belanja, tadi dia nanya mas perlu apa saja." Jawab mas Al.

Aku cuman ber "Oh..." sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Mas Al dan mbak Merry sudah menikah selama 20 tahun, anak-anaknya pun sudah mulai remaja. Mas Al seorang ayah yang sayang sama anak-anaknya, sering kali ketika gue chat sama mas Al dia tengah menemani anak-anaknya belajar. Terkadang timbul rasa iri namun terkadang gue justru bersyukur menjadi "bagian" dari keluarga mas Al.

Kami melanjutkan makan kami yang tertunda. Ketika tengah makan, tiba-tiba terlintas pikiran nakal di kepala gue.

"Mas... Kapan-kapan saya main ke rumah mas boleh nggak?" Kata gue sambil tersenyum menggoda.

Selama ini gue memang belum pernah main ke rumah mas Al (yakali gila kali gue sampai berani main ke rumah dia?)

"Boleh... Kenapa tidak?" Jawab mas Al dengan tenang.

"Kalau saya ke tempat mas Al, ntar saya dikenalkan sebagai apa?" Kata gue lagi.

"Dek Stu maunya apa?" Jawab mas Al tetap tenang.

"Apa ya???"

Jyah... gue yang mulai, sekarang gue yang bingung sendiri. Gue ambil sepotong bakwan jagung dan gue kunyah perlahan-lahan.

"Suatu saat mamanya anak-anak juga akan tahu, bukankah lebih baik kalau mas yang memberi tahu dia daripada dia mendengar dari orang lain?" Kata mas Al menjawab diam gue.

"Kalau... Anak-anak mas...?" Tanya gue perlahan.

"Anak-anak sudah gedhe... Sedari dulu mas mengajarkan keterbukaan ke mereka dan sejak dulu pula mas memperlakukan mereka sebagai teman bicara, bukan sebagai anak kecil." Kata mas Al lagi.

Gue terdiam, berbagai macam pikiran dan perasaan campur aduk di pikiran gue. Gue gak bisa ngomong, gue gak ngerti apa yang gue rasakan saat ini.

Gue kunyah bakwan jagung kesukaan gue perlahan-lahan. Gue gak berani melihat mas Al yang tengah memperhatikan gue.

[Continue reading...]

Selasa, 29 Januari 2013

Cerita IV Part 2

- 0 comments

Secara fisik sebenarnya mas Al bukan type gue. Mas Al orangnya kurus sementara gue lebih suka cowok yang agak2 chubby (suka aja sih ngeliatnya dan kayaknya enak kalau dipeluk :p). Secara umur kita juga beda jauh, dia... well... 40 :">

Tapi gak tau entah kenapa kita gampang akrab dan ketika mas Al ngajak jadian, I'm easily say yes.

~~~

"Lu langsung jawab iya?" Tanya Ryan sewaktu gue bercerita tentang jadian gue sama mas Al

"Hu uh." Jawabku polos

"Saat itu juga?" Tanya Ryan lagi sambil pasang tampang bego.

Aku jawab dengan anggukan kepala.

"Mure deh... Play hard to get dikit napa?" Kata Ryan dengan santai.

Saat itu gue berharap gue punya lesung buat nimpuk dia.

~~~

Entahlah... Mungkin karena euphoria gue "AKHIRNYA GUE PACARAN!!!!" Bodo amat sama siapa.

Mungkin juga karena pesona dari mas Al. Yang gue sendiri gak bisa menjelaskannya.

Atau jangan-jangan gue kena guna-guna dia?

OMG!!!! Si Ryan bakal ngakak puas deh klo pemikiran ini gue kasih tau ke dia.

Well... Dia bukan tipe cowok romantis, but he surely know how to threat someone rightly. Baik sebelum ataupun semasa pacaran. Gak pernah ada obrolan-obrolan romantis. Pangilan sayang kami masing-masing? Well... Gue manggil dia Mas Al dan dia manggil gue "Dek Stu" Gak romantis yak? Oh well... I like it that way.

Acara penembakanpun juga bukan sesuatu yang romantis. Mas Al nembak gue lewat chat WA setelah kita 2 minggu dan (lumayan) sering ngobrol

"Mas gak pengen tahu lebih banyak tentang saya dulu?" Kata gue waktu itu.

"Mas udah tahu apa yang perlu mas ketahui dari dek Stu." Jawab mas Al.

Jawaban cerdas dan gue gak bisa nemu argumen untuk jawaban tersebut.

"Tapi kita baru ketemu sekali mas?" Kataku lagi.

"Emang kalau kita jadian kita tidak bisa bertemu?" Jawab mas Al dengan sebuah pertanyaan.

Dan gue gak bisa jawab.

"Uhmm... Mas Al gak nanya seks role saya?" Hanjrut pertanyaan apa dah.

"Apakah itu sesuatu yang harus ditanyakan?" Jawab mas Al lagi.

MENEKETEHE??? Gue belom pernah pacaran sebelumnya. Kata gue dalam hati.

Gue terdiam, walaupun baru sekali bertemu dan lebih banyak komunikasi lewat chat, tapi gue merasa nyaman. Mas Al cerita cukup banyak tentang dirinya dan gue bisa menerima semua yang ada pada dirinya.

"Uhmm... Jawabnya iya mas." Kata gue pada akhirnya

"Iya apa?" Jawab mas Al

"Iya saya mau jadi pacar mas Al" kataku

"Dek Stu yakin?" Tanya mas Al.

Yaelah... Gue tabok juga lu. (Dalam hati juga) l

"Iya mas."

"Dengan segala apa yang ada pada mas?" Tanya mas Al lagi.

"Iya mas, bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini?" Jawab gue. Hopefully he consider it as  smart answer.

Dan sejak saat itulah gue dan mas Al jadian. Interaksi antar kami lebih banyak lewat chat dan telepon. Jarang bisa ketemu langsung karena kesibukan kerja, dia punya posisi yang cukup penting di perusahaan tempat dia bekerja sementara gue fresh graduate yang  tengah merintis karier di kantor tempat gue bekerja sekarang.

Dengan intensitas ketemuan yang jarang, physical touch yang well... tidak bisa dikategorikan sebagai kontak fisik orang yang tengah berpacaran. Mjngkin benar apa yang dikata Ryan. Gue kering, tapi gue menikmati kebersamaan gue bersama mas Al, apapun itu bentuknya.

After all tidak ada yang sempurna di dunia ini kan?

[Continue reading...]

Minggu, 27 Januari 2013

Cerita IV (Part I)

- 2 comments

"Maaf ya Ray, nanti kita gak jadi makan siang bareng." Pesan yang aku kirim lewat WA untuk temanku Ryan.

"Kenapa?????" Jawab Ryan (dengan banyak tanda tanya dan emot manyun)

"Mas Al ngajak aku buat makan siang bareng. Kamu kan tahu kalau aku jarang bisa ketemu sama mas Al" Jawabku (tak lupa aku bubuhkan emoticon sedih)

"Cungguh? Enelan? Makan siang dimana?" Tanya Ryan.

Aku pun menyebutkan nama sebuah restoran terkenal di pinggir kota Solo.

"Great! Resto itu terkenal dengan Patin bakarnya, gue mau satu. Lu yang nraktir." Tulis Ryan (dengan emoticon nyengir tengil) dan gue gak bisa bilang tidak.

And here I am right now, keluar dari mobil mas Al berjalan memasuki restoran yang asri ini menuju ke salah satu gazebo di pojok restoran.

Tak berapa lama kami duduk, seorang pelayan restoran datang menghampiri kemudian menyodorkan menu.

"Dik Stuart mau pesan apa?" Tanya mas Al kepadaku.

"Mas Al apa?" Kataku balik bertanya.

Kami pun kemudian mendiskusikan makanan yang akan kami pesan.

"Uhmm... Kata temen bakwan jagung di sini enak, boleh pesan ya mas?" Kataku sambil tersenyum lebar.

"Boleh... Tapi jangan banyak-banyak ya..." kata mas Al tersenyum simpul melihatku.

Mas Al orang yang sangat menjaga pola makannya dan gorengan merupakan salah satu "musuh utamanya" tapi mas Al tidak pernah memaksaku untuk mengikuti gaya hidupnya, dia hanya mengingatkanku untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi makanan satu ini.

Sebelum pelayan pergi meninggalkan meja kami, aku membisikkan pesanan Ryan sambil meminta untuk memisahkan bill nya.

"Ada apa?" Tanya mas Al setelah pelayan pergi.

"Eh..  Nggak apa-apa koq mas..." jawabku

"Jatah Preman?" Tanya mas Al sambil tersenyum.

Mas Al sudsh tahu kalau aku dan Ryan berteman akrab dan aku juga sudah cerita mengenai sifat Ryan yang jahil dan suka iseng.

"Iya mas, sebenarnya rencananya aku dan Ray mau makan siang bareng..." kataku

"Wah... Berarti mas yang salah dong yah?" Kata mas Al.

"Enggak lah mas..."

"Yaudah klo gitu, mas yang tanggung jawab. Biar mas bayar pesenan Ryan."

"Jangan mas, aku gak mau ngerepotin mas Al." Kataku mencoba menolak permintaan mas Al.

"Please, allow me to do that for you." Kata mas Al sambil mengenggam tanganku kemudian meremasnya sambil matanya menatap mataku dan kemudian tersenyum.

Gue meleleh.

~~~~

"Jadi kamu sama mas Al blom pernah make love? Not even once" tanya Ryan sore itu, sewaktu dia main ke kost ku.

"Nope." Kataku sambil ngemil keripik singkong yang dibawa Ray.

"Kalau petting?" Tanya Ryan lagi.

"Hah? Apaan tuh?" Kataku.

"Lu beneran kagak tau?" Tanya Ray yang aku jawab dengan gelengan.

"Well... Petting itu kontak seksual tanpa penetrasi."

"Oh itu...  Blom pernah juga." Jawabku

"Tapi ciuman pernah dong?" Kata Ryan lagi, kali ini dengan mimik serius.

"Uhm... cipika cipiki di hitung ciuman gak?"

"Cipika cipiki kayak gini?" Kata Ryan sambil menempelkan pipinya ke pipiku.

"Hu uh." Kataku lagi.

"KAGAK!!!" Kata Ryan.

"Dih galak..." kataku

"Well... Mas Al sering pegang tanganku, meremasnya trus beberapa kali dia juga memijat pundakku." Kataku menambahkan

Ryan cuma pasang tampang bego ngeliat aku yang tengah meracau sendirian

"Sik bentar... Kalian jadian udah berapa lama? Stupid question I KNOW but just to make sure." Tanya Ryan

"Uhmm... Udah 6 bulan ini."

"OH EM JI...." kata Ryan dengan tampang shock.

"Kalau gue jadi elu udah kering kali Stu." Kata Ryan menambahkan

"Tabok ya..." kataku sambil melempar bantal ke arah Ryan yang ngakak kesenangan.

"Eh iya, si mas itu pacar pertama kamu kan yah?" Tanya Ryan lagi.

"Iye, lu udah tau ngapain nanya?" Jawabku dengan muka cemberut.

Well... Aku dan Ryan berteman sejak jaman kuliah dulu dan kami saling terbuka satu sama lain jadi sudah saling tahu sama tahu.

"Dan lu belum pernah melakukan "hal itu" sebelumnya" tanya Ryan lagi dengan cueknya.

"Iye" jawabku lagi (masih cemberut)

"Hmm... Lu udah mau 25 tahun dan lu belum pernah punya pengalaman seksual sama sekali." Kata Ryan ngomong sama diri sendiri.

"Harusnya kamu masuk museum rekor deh." Kata Ryan lagi sambil nyengir super tengil.

Dan gue cuman bisa cemberut ngeliatnya.

Aku dan Ray sudah deket sebagai temen, sudah bisa memahami karakteristik masing-masing, Ryan dengan becandaannya yang kasar dan sering kali menohok tidak pernah membuatku sakit hati. In fact karena dia lebih "expert" maka aku lebih banyak bertanya dan "belajar" dari Ryan.

"Kalau aku dulu pertama kali umur berapa ya?" Kata Ryan sambil mengingat-ingat.

"18? Atau 17 eh ndak ding kayaknya 16 deh." Kata Ryan lagi

"KAGAK MAU DENGER." Teriak gue sambil menutup kuping pake bantal.

Dan Ryan kembali ngakak ngeliat gue.

"Seriously yah Stu, have you ever thought of doing "something" sama si mas?" Tanya Ryan dengan serius.

"Ya pasti pernah lah Ray." Kataku dengan serius pula.

"Kalau dia minta kamu jadi batem? Kamu siap?" Tanya Ryan lagi.

Terdiam sejenak.

"Nggak tau ya Ray. Gue sayang sama mas Al, dia juga selalu baik serta sayang. But when it come to sex I'm absolutely have no idea." Kataku kemudian.

"Well... Kalau aku bilang ya Stu for your first time you better do it with the one you love, you do it because you want it, not because you force to do it. Yoh don't have to do it if you don't want it." Kata Ryan lagi.

Itu yang aku suka dari berteman dengan Ryan, dibalik sikapnya yang selengekan, becandaannya yang keterlaluan dan sering kali bikin keki. He truly is a good friend.

"Kalau gue dulu pertama kali sama siapa yah? Satpam sekolah? Bukan deh... Mas-mas tetangga sebelah? Bukan juga... Andrew pacar pertama gue?" Kata Ryan kembali ngomong sama diri sendiri

"RAY GILA!!!!!"

Kembali Ray ketawa ngakak

[Continue reading...]

Rabu, 16 Januari 2013

D'Aodh Tù

- 0 comments

Kota itu tak lebih besar
Tidak lebih ramai
Tak pula jauh
Dari kota tempat tinggalku

Hanya satu jam naik kereta

Kebanyakan orang lebih suka menghabiskan liburan
Di kotaku
Tapi aku
Lebih suka berada di kota kecil itu

Karena ada kamu disitu

Kamu dan keramahanmu
Kamu dengan segala kesederhanaanmu
Kamu dengan keanehan-keanehanmu

Malam ini aku teringat kota kecil itu
Teringat akan dirimu

Aku kangen kota kecil itu
Aku kangen kamu

NOTE:
D'Aodh Tù (Irish Gaelic) dalam bahasa Indonesia artinya Untuk Kamu

[Continue reading...]

Rabu, 09 Januari 2013

Hi Again

- 0 comments

"Stu..." sapaan hangat mengikuti tepukan di pundakku ketika aku tengah menikmati hujan bersama Coelho ditemani secangkir kopi di Teras Kafe sore itu.

Suara yang begitu aku kenal namun sudah lama tak aku dengar. Aku meloncat dari kursi ku, melihat kearah orang yang tadi menyapaku.

"AL.... IT'S YOU!" kataku setengah berteriak.

Here you are,  standing in front of me. Sambil nyengir tengil tanpa dosa, seakan-akan kita tidak terpisah sekian lama.

Tanpa ragu-ragu ku peluk Al. Ku peluk erat-erat layaknya anak kecil yang tengah memeluk erat mainan kesukaannya.

"Aw... Sakit tauk..." kata Al sambil membalas pelukanku.

"I missed you soooo much Al." Kataku sambil mengendurkan pelukanku namun tak juga melepaskannya.

"Lebay ih..." kata Al sambil ketawa.

"I missed you Stu." Kata Al menambahkan.

Ku lepaskan pelukanku kemudian kupandangi Al dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Tanbah cakep aja kamu..." kataku yang kemudian disambut ketawa oleh Al.

"Stu... Don't you want to know where have I been?" Tanya Al.

Terdiam sejenak.

"Well... I DO curious Al. Tapi toh nanti ada saatnya kamu akan cerita, yang paling penting adalah sekarang kau ada disini." Kataku sambil tersenyum riang.

"Duduk yuk... Mau pesen apa? Kopi apa teh? Atau susu? Gimana kalau juice? Soft drink may be?" Kataku menawarkan.

"Hahaha... Dasar" kata Al sambil ketawa lebar.

NOTE:
For T, my long lost frind. Soooo glad to have you back #Peluk #Uyel2

[Continue reading...]

Jumat, 04 Januari 2013

Aku Suka Hujan

- 2 comments

Menembus derasnya hujan
Menaiki motor
Dengan kau dibelakang
Memeluk erat punggungku

Aku suka hujan,

Menikmati hujan yang turun
Ditemani teh dan kopi panas
Bersamamu

Aku suka hujan,

Menghangatkan tubuh
Dengan memelukmu
Sepanjang malam

Aku selalu suka hujan
Terlebih jika ada kau di sampingku.

[Continue reading...]
 
Copyright © . Cerita Fin - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger